Dasar kau Keong Racun,
baru kenal udah ngajak tidur
Seorang babtsitter baru masuk kerja di rumah majikan,
Pada saat semua pergi ke kantor,
dia membujuk si bayi yang berumur 1 tahun,
katanya :
"cup cup cup sayang,
tidur yuk say..."
Trus bayi balas :
"Dasar kau Keong Racun,
baru kenal udah ngajak tidur"
hahaha
(dari berbagai sumber)
Rabu, 04 Mei 2011
Sabtu, 30 April 2011
Mencuci Rangka
Musim penghujan sering mengakibatkan banjir di beberapa wilayah sehingga motor kesayangan anda akan terendam. Anda tidak harus memfokuskan pada mesin dan kabel kelistrikan tetapi juga mengecek bagian rangka sebagai tulang utama. Sehingga anda harus melakukan perawaran khusus jika rangka tidak ingin menjadi berkarat.
Cermati bagian frame yang berlubang. Endapan lumpur dari banjir bisa mengakibatkan rangka berkarat sehingga akan rapuh. Karena endapan lumpur akan membuka rangka retak. Karat pasti datang terutama dilekukan atau sambungan las yang catnya terkelupas. Memang dalaman pipa rangka sekarang sudah dilindungi antikarat yang sudah dilengkapi lubang pembungan air. Jadi tidak perlu takut berlebihan.
Meski diklaim sudah dilindungi, gimana dengan motor yang belum atau tidak ada lubang pembuangannya. Sebaiknya anda tetap cuci meski ada atau tidak ada lubang pembuangan dan caranya pun tidak terlalu rumit. Apalagi motor habis terendam banjir. Pasti bongkar cover bodi untuk mengetahui sisa air pasca banjir yang menyelinap masuk. Jadi sebaiknya anda cuci rangka dengan menggunakan air bersih yang minim zat besi yang menjadi penyebab timbulnya karat.
Jika motor sudah dibongkar maka hal pertama yang anda lakukan adalah mencuci semua bagian rangka. Dari depan hingga belakang dengan menggunakan air bersih. Jika ada celah atau lubang di rangka maka langsung saja disemprot.
Langkah selanjutnya, jika ingin air bekas guyuran di dalam pipa benar-benar bersih terbuang keluar maka sebaiknya disemprot angin kompresor. Khususnya pada lubang bekas sambungan las atau lekukan besi yang memiliki resiko menampung air. Setelah selesai mencuci dan untuk memperpanjang umur pakai dan melindungi dari karat maka lumasi dengan menggunakan cairan pelumas ke seluruh bagian rangka.
Anda bisa gunakan oli girboks yang kental atau bisa gunakan WD40.
Semoga hal ini bermanfaat untuk anda.
(dari berbagai sumber)
Cermati bagian frame yang berlubang. Endapan lumpur dari banjir bisa mengakibatkan rangka berkarat sehingga akan rapuh. Karena endapan lumpur akan membuka rangka retak. Karat pasti datang terutama dilekukan atau sambungan las yang catnya terkelupas. Memang dalaman pipa rangka sekarang sudah dilindungi antikarat yang sudah dilengkapi lubang pembungan air. Jadi tidak perlu takut berlebihan.
Meski diklaim sudah dilindungi, gimana dengan motor yang belum atau tidak ada lubang pembuangannya. Sebaiknya anda tetap cuci meski ada atau tidak ada lubang pembuangan dan caranya pun tidak terlalu rumit. Apalagi motor habis terendam banjir. Pasti bongkar cover bodi untuk mengetahui sisa air pasca banjir yang menyelinap masuk. Jadi sebaiknya anda cuci rangka dengan menggunakan air bersih yang minim zat besi yang menjadi penyebab timbulnya karat.
Jika motor sudah dibongkar maka hal pertama yang anda lakukan adalah mencuci semua bagian rangka. Dari depan hingga belakang dengan menggunakan air bersih. Jika ada celah atau lubang di rangka maka langsung saja disemprot.
Langkah selanjutnya, jika ingin air bekas guyuran di dalam pipa benar-benar bersih terbuang keluar maka sebaiknya disemprot angin kompresor. Khususnya pada lubang bekas sambungan las atau lekukan besi yang memiliki resiko menampung air. Setelah selesai mencuci dan untuk memperpanjang umur pakai dan melindungi dari karat maka lumasi dengan menggunakan cairan pelumas ke seluruh bagian rangka.
Anda bisa gunakan oli girboks yang kental atau bisa gunakan WD40.
Semoga hal ini bermanfaat untuk anda.
(dari berbagai sumber)
Memilih dan Merawat Ban
Di kalangan bikers ban merupakan peranti standar yang wajib ada. Ya iyalah, gimana bisa ‘nggelindhing tanpa ban? Banyak pilihan dalam memilih ban mulai dari jenis tubeless dan pakai ban dalam atau tidak. Kesulitan memilih bertambah kian maraknya merek ban dan jenis kembangannya istilah kerennya pattern.
Langkah awalnya yang sederhana adalah memilih ban yang di bannya terdapat label SNI. Untuk mendapatkan label SNI ini perusahaan ban maupun importir harus melakukan pengujian di laboratorium yang telah ditunjuk di Indonesia. Sample diambil dari pabrik ataupun yang ada di pasaran kemudian disegel sedemikian rupa lalu dikirimkan ke laboratorium.
Pada umumnya pengujian bersifat destruktif (merusak). Ini untuk mengetahui tingkat kemampuan ban itu sendiri. Banyak keuntungan bila kita memilih ban dengan label SNI. Pertama, safety. Hal ini menjadi kita lebih yakin mempergunakannya. Kedua, produk dalam negeri akan lebih terlindungi. Dalam arti keran impor tidak dibuka lebar-lebar tanpa kualifikasi. Ada beberapa kasus mengenai ban yang tidak terangkat ke permukaan. Ini lebih dikarenakan terlalu mudahnya memasukan barang dan tentu saja murahnya ban tersebut. Murah tentu saja terkait dengan harga. Namun, pentingkah itu bila dikaitkan dengan nyawa? Sungguh terlalu !
Perbedaan harga tidak terpaut jauh bila dibandingkan dengan ban standar. Tentu saja pabrik ban telah memperhitungkan hal ini. Jadi jangan kuatir kemahalan. Harga biasanya yang mempermainkan adalah penjualnya. So..pilihlah bengkel yang terpercaya dan direkomendasikan.
1. Mempertahankan ban standar adalah solusi bijak. Jika memang basah atau hujan menjadi perhatian utama maka ban dengan karakter kontak area yang lebar akan menjadi pilihan terbaik. Mungkin untuk jenis bebek 100 - 150 cc ban belakang menggunakan 80/90-17, 90/90 atau 90/80-17 atau 100/70 or 100/80-17. Untuk jenis sport 150 - 250 cc, 100/80, 120/80 atau 130/70 merupakan alternatif yang menarik.
2. Khusus range tapak 100 ke atas sesuaikan dengan velg yang ada.Untuk profile sesuai yang diharapkan mesti dipasangkan velg yang tepat. Jika tidak maka percuma, karena karakter handling yang diharapkan tidak akan maksimal. Jika velg lebih kecil dari yang seharusnya tapak ban akan meruncing.
3. Kembangan. Bila ingin terlihat keren, bilang aja pattern. Dijamin sampeyan mirip bule yang bikin ban Michelin.Tapi gak keren ah, lah kalah mulu sama Bridgestone. Untuk penggunaan harian unsur fashion lebih dominan. Sepanjang pattern cukup streamline, terlihat aliran bagus maka sistem buangan air akan bagus pula. Karakter blok dapat ditemui pada ban tipe off road ataupun yang menganut dua medan. Tanah bisa, aspal oke. Tipe ini memiliki bentuk pattern dengan disusun oleh knob agar memiliki tekanan ke dalam tanah yang labil untuk mencapai lapisan yang stabil, misal tanah merah berlumpur. Dasar tanah ada yang keras namun lapisan atas sangat labil (lumpur). Namun ada beberapa karakter blok dengan kedalaman groove yang tidak terlalu dalam juga maksimal untuk jalan basah.
4. Tekanan ban. Terdapat salah kaprah yang ada saat ini. Dengan mengurangi angin. Di tabloid Otomotif pun menganjurkannya beberapa edisi lalu. Hal ini lebih memberi kesan ban lebih lebar dengan harapan akan lebih menapak dengan sempurna. Pada kenyataannya bentuk profile center tread membelah sehingga bagian tengah dari ban tersebut tidak memiliki tekanan ban yang sempurna ke aspal. Justru hal ini akan membahayakan disebabkan respon pengereman akan berkurang. Untuk amannya untuk mengisi angin sesuai anjuran pabrik.
So…gak susah kan pilah pilih ban?
(dari berbagai sumber)
Wanita dan Air Mata
Seorang wanita tidak akan menangis dengan mudah,
kecuali di depan orang yang sangat dia sayangi,
Apakah betul begitu...???
Jika seorang wanita menangis dihadapanmu,
itu berarti dia tidak dapat menahannya lagi
meskipun dia memendam kecewa dan berusaha menahan air matanya
Jika kau memegang tangannya saat dia menangis,
dia akan tinggal bersamamu sepanjang hidupmu
Jika kau membiarkannya pergi,
dia tidak akan kembali menjadi dirinya yang dulu selamanya
Seorang wanita tidak akan menangis dengan mudah,
kecuali di depan orang yang sangat dia sayangi,
dia akan menjadi lemah
Dia akan menurunkan egonya
Apakah betul begitu...???
kecuali di depan orang yang sangat dia sayangi,
Apakah betul begitu...???
Jika seorang wanita menangis dihadapanmu,
itu berarti dia tidak dapat menahannya lagi
meskipun dia memendam kecewa dan berusaha menahan air matanya
Jika kau memegang tangannya saat dia menangis,
dia akan tinggal bersamamu sepanjang hidupmu
Jika kau membiarkannya pergi,
dia tidak akan kembali menjadi dirinya yang dulu selamanya
Seorang wanita tidak akan menangis dengan mudah,
kecuali di depan orang yang sangat dia sayangi,
dia akan menjadi lemah
Dia akan menurunkan egonya
Apakah betul begitu...???
Jumat, 29 April 2011
Profil Singkat dari Dr. Neles Tebay
orang Papua harus bersatu dalam gagasan bahwa kemerdekaan bukan ide yang baik untuk komunitas ini. Mereka juga harus menolak gagasan bahwa beberapa kekuatan asing harus menengahi (Belanda juga tidak harus dilihat sebagai penyelamat mungkin dengan penolakan dari tindakan 1969 dari pilihan bebas sebagai dasar penggabungan Papua Barat ke Indonesia).
Dalam perjuangannya untuk hak-hak Papua, Tebay juga meminta agar keputusan yang seimbang tentang peran dan tempat pendatang baru di Papua: "kita tidak bisa tinggal di sini tanpa bantuan mereka”
Ini adalah sebuah Profil Singkat dari Dr. Neles Tebay, yang ditulis dan dipublikasikan oleh seorang berkebangsaan Belanda dalam blognya sendiri, Karel Steenbrink.
Ini adalah tulisan asli dari si pemilik blog.
Saya sengaja tidak mentranslate terlebih dahulu, tapi langsung saja apa adanya dengan aslinya.
Walaupun sebelumnya saya sudah mentranslatenya, tapi untuk kepentingan saya pribadi.
Hehe
The most prominent diocesan priest in the Jayapura region definitely is Dr. Neles Tebay, born in Moanemani, Wissel/Paniai Lakes 13 February 1964.
As a young boy he was in the boarding house of the High School under direction of Franciscan Friar Jan Serps.
He studied at Fajar Timur in Jayapura, and, after his ordination in 1992, obtained a Masters Degree in Manilla and a Ph.D. at the Urbania University of Rome.
He worked at the Diocesan Office of Jayapura for the Justitia et Pax issues and has here published a large number of statements, brochures and the impressive series Memoria Passionis di Papua, a year by year account of all kind of violations of human rights in Papua. Neles Tebay has a very lucid style of writing and is a regular author for articles in the Englis-language newspaper The Jakarta Post.
Articles between 2000-2008 are published in a book Papua, its problems and possibilities for a peaceful solution.
In march 2009 he has published a booklet of 50 pages on the proposal the have a dialogue between Papua and the Central Government in Jakarta, following the example of the peace talks in Aceh between GAM and the Central Government in Jakarta.
Tebay has put several conditions for this talk:
1. The OTSUS, or special autonomy as granted to Papua in 2000 has not been respected by the Central Government, it is unilaterally interpreted and also violated by the Jakarta Government. It must be a topic of discussion how the idea trule can be implemented;
2. Papua people should be united in the idea that independence is not a good ideal for this community. They also should reject the idea that some foreign power should mediate here (also the Dutch should not be seen as possible rescuers by rejection of the 1969 act of free choice as the valid basis of the incorporation of West Papua into Indonesia).
3. Papua people must learn discipline.
In the March 2009 event at the occasion of the launching of the book it was clear that Papua people like hot debates, often disagree among themselves and have no clear and realistic strategy for the fulfillment of their goals.
Among the social and political leaders in modern Papua the Catholics have given quite prominent leaders.
Tebay's predecessor as rector of the Fajar Timur school, Lay theologian Agus A. Alua (RIP) is now chairperson of the Majlis Rakyat Papua (some kind of 'Senate' besides the provincial council of Papua; it is a body instituted under the special autonomy law for Papua).
In his fight for Papua rights, Tebay also asks for a balanced judgment about the role and place of recent migrants in Papua: 'we cannot live here without their help'.
For some time Neled Tebay was also the Vicar of the bishop, LLL or Leo Laba Ladjar who has less outspoken political messages but wants to give a more pure religious viewpoint about the present sytruggle of the Papua people.
Fajar Timur as a theological was established for candidates for the priesthood and for lay people alike, in the late 1960s and early 1970s.
This is now seen as a measure taken out of the condition of the time. In the early 1970s there were not yet five candidates for the priesthood, now they have more than hundred (even a number of 160 was mentioned).
Therefore the bishop has decided in 2008 to restrict access to the classes in Fajar Timur for candidates for priesthood only and in the boarding house of the school only diocesan candidates are accepted.
This is done partly because the Vatican urges the promotion of diocesan clergy and Saint Peter's Funds only provide money for diocan clergy, while the religious order have their own houses close to Fajar Timur.
There is still one female student and few male students at Fajar Timur, but lay people are now sent to the Catechetical College, that is established in another location in Abepura as STPK, Sekolah Tinggi Pendidikan Katolik, following the model of the catechical college, established in Malang by Father Paul Janssen CM
However, Neles Tebay wants to develop Fajar Timur in a more general way and hopes to open next yar besides the theological faculty an new department of antrology with culture studies as it most important object.
Fajar Timur has always specialised in cultural studies, much more than other major seminaries and theological schools.
Dalam perjuangannya untuk hak-hak Papua, Tebay juga meminta agar keputusan yang seimbang tentang peran dan tempat pendatang baru di Papua: "kita tidak bisa tinggal di sini tanpa bantuan mereka”
Ini adalah sebuah Profil Singkat dari Dr. Neles Tebay, yang ditulis dan dipublikasikan oleh seorang berkebangsaan Belanda dalam blognya sendiri, Karel Steenbrink.
Ini adalah tulisan asli dari si pemilik blog.
Saya sengaja tidak mentranslate terlebih dahulu, tapi langsung saja apa adanya dengan aslinya.
Walaupun sebelumnya saya sudah mentranslatenya, tapi untuk kepentingan saya pribadi.
Hehe
The most prominent diocesan priest in the Jayapura region definitely is Dr. Neles Tebay, born in Moanemani, Wissel/Paniai Lakes 13 February 1964.
As a young boy he was in the boarding house of the High School under direction of Franciscan Friar Jan Serps.
He studied at Fajar Timur in Jayapura, and, after his ordination in 1992, obtained a Masters Degree in Manilla and a Ph.D. at the Urbania University of Rome.
He worked at the Diocesan Office of Jayapura for the Justitia et Pax issues and has here published a large number of statements, brochures and the impressive series Memoria Passionis di Papua, a year by year account of all kind of violations of human rights in Papua. Neles Tebay has a very lucid style of writing and is a regular author for articles in the Englis-language newspaper The Jakarta Post.
Articles between 2000-2008 are published in a book Papua, its problems and possibilities for a peaceful solution.
In march 2009 he has published a booklet of 50 pages on the proposal the have a dialogue between Papua and the Central Government in Jakarta, following the example of the peace talks in Aceh between GAM and the Central Government in Jakarta.
Tebay has put several conditions for this talk:
1. The OTSUS, or special autonomy as granted to Papua in 2000 has not been respected by the Central Government, it is unilaterally interpreted and also violated by the Jakarta Government. It must be a topic of discussion how the idea trule can be implemented;
2. Papua people should be united in the idea that independence is not a good ideal for this community. They also should reject the idea that some foreign power should mediate here (also the Dutch should not be seen as possible rescuers by rejection of the 1969 act of free choice as the valid basis of the incorporation of West Papua into Indonesia).
3. Papua people must learn discipline.
In the March 2009 event at the occasion of the launching of the book it was clear that Papua people like hot debates, often disagree among themselves and have no clear and realistic strategy for the fulfillment of their goals.
Among the social and political leaders in modern Papua the Catholics have given quite prominent leaders.
Tebay's predecessor as rector of the Fajar Timur school, Lay theologian Agus A. Alua (RIP) is now chairperson of the Majlis Rakyat Papua (some kind of 'Senate' besides the provincial council of Papua; it is a body instituted under the special autonomy law for Papua).
In his fight for Papua rights, Tebay also asks for a balanced judgment about the role and place of recent migrants in Papua: 'we cannot live here without their help'.
For some time Neled Tebay was also the Vicar of the bishop, LLL or Leo Laba Ladjar who has less outspoken political messages but wants to give a more pure religious viewpoint about the present sytruggle of the Papua people.
Fajar Timur as a theological was established for candidates for the priesthood and for lay people alike, in the late 1960s and early 1970s.
This is now seen as a measure taken out of the condition of the time. In the early 1970s there were not yet five candidates for the priesthood, now they have more than hundred (even a number of 160 was mentioned).
Therefore the bishop has decided in 2008 to restrict access to the classes in Fajar Timur for candidates for priesthood only and in the boarding house of the school only diocesan candidates are accepted.
This is done partly because the Vatican urges the promotion of diocesan clergy and Saint Peter's Funds only provide money for diocan clergy, while the religious order have their own houses close to Fajar Timur.
There is still one female student and few male students at Fajar Timur, but lay people are now sent to the Catechetical College, that is established in another location in Abepura as STPK, Sekolah Tinggi Pendidikan Katolik, following the model of the catechical college, established in Malang by Father Paul Janssen CM
However, Neles Tebay wants to develop Fajar Timur in a more general way and hopes to open next yar besides the theological faculty an new department of antrology with culture studies as it most important object.
Fajar Timur has always specialised in cultural studies, much more than other major seminaries and theological schools.
Langganan:
Postingan (Atom)

