Senin, 21 Februari 2011

Jilbab


Rasulullah pernah bersabda : “Akan datang suatu masa dimana banyak wanita telanjang meskipun berpakaian. Mereka berkeinginan agar para pria tertarik kepada mereka dan mereka tertarik kepada para pria itu. Para wanita itu bahkan tidak berhak mencium bau surga”
Jilbab itu menghapus rasa iri dari kesenjangan ekonomi yang mungkin ada. Jilbab menggambarkan status yang sama pada wanita Muslim. Apakah mereka miskin atau kaya, Jilbab memberikan kehormatan dan martabat yang sama bagi setiap wanita.
Dapatkah seorang pria bekerja dengan kosentrasi dan baik jika disekelilingnya duduk atau berdiri seorang wanita yang berpakaian sexi dan minim dengan rok mini, sepatu hak tinggi dan belahan dada yang aduhai???
Orang barat sering menganggap wanita Muslim adalah kaum rendah, karena memakai Jilbab. Orang barat merasa bangga dengan emansipasi wanitanya, dimana wanita bebas memakai pakaian dari yang tertutup sampai yang setengah telanjang alias “Bikini”, bahkan ada perkumpulan yang mana disitu semua harus telanjang. Tetapi secara umum wanita barat suka yang agak buka-bukaan dalam berpakaian alias yang sexi-sexi. Banyak dari mereka suka jika bisa menarik lawan jenis dan berakhir di tempat tidur.
Bagi Barat, lembaga perkawinan pun kini sudah rapuh. Kehidupan perkawinan menjadi beban, dan bagi Barat konsep tersebut adalah sesuatu yang tolol, termasuk pakaian yang menutup seluruh tubuh. Mereka menganggap pakaian tertutup rapat seperti itu adalah belenggu. Itulah mengapa di Barat marak hidup serumah tanpa perkawinan “Kumpul Kebo”. Bahkan ada yang sampai mempunyai anak tetapi mereka tidak menikah. Dan sungguh hal yang memprihatinkan jika sampai orang timur seperti Indonesia ikut-ikutan gaya mereka.
Sungguh suatu yang aneh bahwa mereka mengaku beragama Kristen tetapi tidak membaca Kitabnya. Di Islam juga banyak orang yang beragama Islam tetapi mereka tidak membaca Kitab Sucinya. Bahkan banyak umat Islam yang entah tidak tahu atau tidak mau tahu mengatakan bahwa perintah Jilbab tidak ada dalam Al-Quran.
Jilbab sebenarnya adalah syariat yang diturunkan oleh para nabi, khususnya sejak Ibrahim hingga Muhammad. Dalam Injil pun Yesus (Nabi Isa) memerintahkan wanitanya untuk menutup tubuh mereka. Kalau kita lihat para biarawati di Film-film Hollywood, tampak bahwa mereka memakai Jibab, tetapi hanya biarawati, lainnya tidak. Sedangkan di Islam semua wanita baik Ustadzah, pegawai kantor, ibu rumah tangga dll diwajibkan memakai Jilbab saat di muka umum (diluar keluarga). Wanita Muslim yang sudah dewasa tetapi tidak memakai Jilbab mungkin dia tidak tahu kalau Allah memerintahkannya dalam Al-Quran atau mereka memang kaum yang membangkang.
Sebenarnya Jilbab itu tidak memandang siapa yang memakainya, entah itu wanita Pendosa atau wanita shaleh. Semua wanita dari golongan atas sampai bawah, dari yang bermoral jelek (Pendosa) atau bermoral bagus (shaleh), semua harus memakai Jilbab. Itu adalah salah kalau banyak kalangan berpendapat bahwa Jilbab hanya untuk wanita yang sudah beragama bagus, dan yang belum beragama bagus tidak usah memakai daripada mengotori. Sehingga banyak kalangan wanita merasa belum siap memakai Jilbab karena merasa agamanya belum bagus.
Ingat dalam menutup tubuh usahakan lekuk-lekuk tubuh dapat dihilangkan semaksimal mungkin (jangan pakai Jilbab ketat). Banyak Umat Muslim yang memakai Jilbab tetapi ketat. Jilbab yang mereka pakai sama saja pakaian menyelam, karena meski tubuh tertutup tetapi lekuk-lekuk tubuh kelihatan (berpakaian tetapi telanjang). Inti menutup tubuh itu bukan sekadar menutub tubuh, tetapi sebisa mungkin menyamarkan bentuk tubuh (tidak kelihatan lekuk-lekuknya).
Dalam berjilbab pun banyak pendapat atau aliran. Ada yang tertutup penuh, ada yang kelihatan muka sama telapak tangan, ada yang kainnya polos, ada yang kainnya bermotif, itu terserah kemantapan hati mereka. Boleh saja memakai Jilbab seperti itu (entah tertutup penuh, Modis, biasa dll) asal kriteria diatas dipenuhi.
“Ketika seorang pria melihat wanita yang berjilbab, maka pandangannya akan berhenti pada Jilbab itu saja. Mereka tidak dapat meneruskan pandangannya lebih jauh ke tubuh wanita yang bersangkutan”. (Karimah Umar-Mualaf Amerika)
Dalam Injil disebutkan :
TIMOTIUS I (2 : 19)
“Bahwa wanita harus berpakaian menutupi kemaluannya, mereka begitu bersinar dan memiliki fisik yang unik, mereka punya area yang tertutup dan mempunyai rambut keemasan. Jadi yang harus dilakukan adalah harus menutupinya”.
KORINTUS I (11 : 5-6)
Dikatakan bahwa Wanita yang tidak menutupi kepalanya sebaiknya mencukur rambutnya sampai habis
Dalam Al-Quran disebutkan :
QURAN SURAT 7 : 26
Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.
QURAN SURAT 24 : 31
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung
QURAN SURAT 24 : 60
Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Dalam Surat 24 ayat 31 diatas dimulai dengan kata “……. janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya”. Yang biasa nampak tentu saja Wajah (leher keatas), tangan dan kaki (tapi konteks disini adalah muka dan telapak tangan, jika diteruskan ke kalimat selanjutnya). Dilanjutkan Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, maksudnya yaitu bahwa kain kudung adalah kain yang menutup kepala, jadi hendaknya kain kudung tersebut menutup juga sampai dadanya tetutup. Maksudnya yaitu bahwa wanita harus menutup tubuhnya sehingga perhiasannya dalam konteks awal kalimat cuma nampak muka dan telapak tangan (tangan se -sepergelangan tangan) , dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka…., atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Kata perhiasan diatas tentu maknanya luas.Dalam kalimat awal si wanita kondisinya sudah tertutup tubuhnya, jadi bisa saja perhiasan disini adalah sejenis barang mulia atau mungkin bagian tubuh yang terbuka seperti kepala, lengan dan kaki (tidak bagian tubuh utama).
Maksud dari ayat ini bahwa di dalam keluarga sendiri boleh tidak berjilbab selama disitu tidak ada lelaki yang bukan muhrimnya, atau di luar keluarga juga boleh tidak ber-Jilbab selama yang ditemui laki-laki yang tidak memiliki keinginan terhadap wanita atau pun anak-anak yang belum mengetahui tentang aurat. Tetapi kalau ada laki-laki normal yang lain, wajib pakai Jilbab.
Dalam Surat 24 : 60 dimaksudkan bahwa wanita yang sudah tua yang sudah tidak begitu menarik lagi boleh tidak berjilbab (sunah hukumnya). Karena Jilbab itu hukumnya wajib berlaku bagi wanita yang sudah dewasa (Baligh) sampai usia tua, tetapi hukumnya menjadi sunah ketika wanita sudah tua.
Itu adalah benar bahwa Umat Islam adalah lebih “Kristen” dari umat Kristen. Bahwa umat Islam menjalankan seluruh ajaran Yesus yang diungkap kembali oleh Nabi terakhir yaitu Muhammad, setelah pengikut Yesus menyelewengkan ajaran Yesus.
Kalau kita lihat di negara tempat Islam lahir (Arab), semua wanita yang beragama Islam memakai Jilbab. Diluar Arab, seperti Indonesia, lambat laun para wanitanya memakai Jilbab. Yang jadi pertanyaan mengapa tidak dari dulu wanita Indonesia memakai Jilbab?. Hal itu dikarenakan masih banyak orang Islam di Indonesia yang belum mengetahui ajaran Islam yang benar itu sendiri.
Islam masuk Indonesia sekitar abad 13 dan saat itu bermunculan kerajaan-kerajaan Islam. Tetapi belum sempat Islam diajarkan secara betul datanglah Penjajah pada tahun 1400-an. Dan otomatis umat Islam saat itu disibukkan untuk mengusir penjajah, sehingga Syar Islam terhambat. Jadi banyak yang beragama Islam tetapi belum tahu secara mendalam tentang Islam. Hal itu berlangsung selama hampir 350 tahun selama penjajahan Belanda. Setelah Indonesia merdeka, baru umat Islam Indonesia mulai mendalami Islam lagi dan sebagian mulai memakai Jilbab.
Yang sudah mengerti akan memakai Jilbab dengan benar (menutup tubuh sekaligus menyamarkan lekukan tubuh). Yang baru mengerti dan belajar mungkin baru sebatas menutup tubuh tetapi tidak sepenuhnya atau berjilbab tetapi masih kelihatan lekukan tubuh. Yang belum mengerti ya seperti anda-anda kaum wanita yang lebih suka dilihatin mata lelaki, anda-anda yang pakai rok mini, dada terbelah kelihatan setengah dll.
Bagi anda-anda yang ingin beragama secara benar, maka mulailah melakukan kebenaran dari yang kecil dulu semampu kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar